Minggu, 06 November 2011

Kantor Impian


KANTOR IMPIAN
Aku berharap disuatu saat nanti yaitu InsyaAllah 6-8 tahun lagi akan kumiliki dan semoga Allah mengabulkannya,,karna Allah maha pengasih dan meaha penyayan ( Amien). AKu ingin mempunyai kantor yang besar  yang memliki tingkat yang tinggi, dan memliki lingkugan yang bersih ,karyawan yang bertanggung jawab dan disiplin.
Aku ingin kantor impianku tecapai secepat mungkin ,sehinggar orang tua bias bangga padaku , aku ingin mempunya kantor yang bergerak di bidang perdagangan yang Halal dan dirsertui Allah… aku ingin di dekat kantor tersebut mempunyai masjid yang sama besarnya dengan kantor tersebut,supay aberguna untuk semua orang(,amien),
Mungkin seperti ini gambarnya..








Akan Kukejar impianku keujung dunia


 







Akuntansi Kusukai

Judul diatas menurut saya mungkin saja akan menimbulkan pertanyaan bahkan reaksi diantara para pembaca khususnya bagi mereka yang berkecimpung di dunia akuntansi apakah itu sebagai pendidik, akuntan, ataupun mahasiswa yang sedang mempelajari akuntansi. Pada dasarnya saya tidak memiliki tujuan negatif menggunakan hal tersebut sebagai judul tulisan dan begitu juga nantinya dalam pemaparan tulisan ini karena saya pribadi juga merupakan seorang mahasiswa di jurusan akuntansi yang menjunjung tinggi falsafah dari akuntansi itu sendiri. Alasan mengapa saya menggunakan judul tersebut hanyalah semata – mata agar saya dapat menggambarkan pokok permasalahan yang akan saya kemukakan dalam tulisan ini dengan sebuah bahasa yang lugas dan sederhana sehingga akan dapat menggambarkan seberapa krusialnya pokok permasalahan tersebut. Saya berharap pemaparan ini nantinya dapat menjadi bahan renungan khususnya bagi kita, orang – orang yang berkecimpung di dunia akuntansi.

Secara tidak sengaja ungkapan judul tersebut saya temukan pada saat saya tengah berdiskusi dua tahun yang silam dengan dua orang sahabat saya yang juga berstatus sebagai mahasiswa jurusan akuntansi dan kebetulan juga merupakan rekan seperjuangan saya di organisasi mahasiswa pada saat itu, yang bernama Pandu dan Putra. Ketika itu saya dan sahabat – sahabat saya tersebut sedang berdiskusi mengenai pola pendidikan akuntansi. Mungkin dikarenakan oleh idealisme yang baru tumbuh yang seringkali terjadi pada setiap aktivis muda ( baru menjadi aktivis ), baik saya, Pandu, dan Putra berdiskusi dengan berapi – api. Dalam diskusi itu saya dan sahabat – sahabat saya tersebut menggunakan bahasa daerah sehari – hari, namun karena alasan etika saya akan menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia.(sekalipun tidak mengikuti pakem EYD yang benar)

Saya membuka diskusi dengan berkata, “ Aku penasaran kenapa kita dituntut untuk menguasai akuntansi sampai sedetail - detailnya. Tentunya kita tidak diharapkan menjadi diktat dan SAK berjalan kan ? “. SAK adalah kependekan dari Standar Akuntansi Keuangan yang menjadi kitab suci akuntansi keuangan di Indonesia. “ Belum lagi praktik akuntansi yang diajarkan pada kita yang aku anggap tidak relevan lagi karena tidak mempersiapkan kita pada tuntutan kerja diluar sana. “ tambah saya. Berpikir sejenak kemudian saya kembali berbicara, “ Coba kita pikir, ketika lulus nanti kita diharapkan menjadi tenaga kerja yang berprofesi dan memiliki kompetensi di bidang akuntansi. Kita cenderung diharapkan untuk dapat mengisi sejumlah pekerjaan di bidang akuntansi pada perusahaan.”

“ Permasalahannya ialah bagaimana mungkin kita bisa memenuhi harapan tersebut jika kita tidak dipersiapkan secara optimal. Bagaimana mungkin kita bisa siap menghadapi tuntutan kerja apabila praktik akuntansi yang kita pelajari masih bersifat manual sedangkan yang kita tahu sebagian besar perusahaan telah menerapkan praktik akuntansi secara elektronik ( menggunakan aplikasi komputer ). Yang aku tahu, kebanyakan jenis perusahaan yang masih menerapkan akuntansi secara manual pada hari ini adalah perusahaan dalam skala kecil atau lebih tepat kita sebut lapau atau kadai ( baca : warung atau toko ) “ ucap saya sambil berseringai.

Mendengar hal itu, Pandu tertawa dan lalu berkata, “ Memang itulah fenomena yang kita dapatkan pada hari ini. Banyak dari kita kurang menyadari hal yang kau sampaikan tadi. Mereka mungkin tahu tentang hal itu, tapi mereka percaya bahwa seperti inilah pakem atau aturan main dari sistem pendidikan akuntansi yang tepat dan harus tetap dilaksanakan seperti itu. Lucunya, ketika ditanya kebanyakan dari mereka kompak mengatakan bahwa hal itu , apakah itu penguasaan yang mendetail tentang akuntansi dan juga praktik akuntansi yang masih bersifat manual, dilakukan supaya mahasiswa akuntansi memahami seluruh aspek – aspek akuntansi yang tujuannya agar hal tersebut diterapkan dengan optimal ketika mereka bekerja atau berprofesi di bidang akuntansi. “

Putra yang dari tadi hanya memperhatikan jalannya diskusi akhirnya bersuara, “ Menurutku ini sangat ironis soalnya ketika kita bekerja di bidang akuntansi, atasan kita cenderung tidak akan mempertanyakan detail – detail akuntansi yang kita pelajari itu. Ia tidak akan mempersoalkan apakah kita menguasai detail – detail akuntansi itu di luar kepala atau cukup hanya mencarinya di buku saja. Yang penting baginya adalah tugas yang diberikan kepada kita dilaksanakan dengan baik, benar, dan selesai tepat waktu. “

“ Makanya, aku juga sepakat bahwa pola pendidikan akuntansi harus terus menerus dievaluasi seberapa relevan kah penerapannya bagi kita ketika telah meninggalkan bangku perkuliahan ini. Harus ada terobosan yang diambil oleh pihak – pihak yang berkepentingan dalam sistem pendidikan akuntansi yang mungkin berupa perubahan paradigma pendidikan. Materi – materi yang diberikan haruslah relevan dengan perkembangan zaman agar kita memiliki daya saing yang tinggi. Makanya, kalau boleh aku gambarkan dalam sebuah ungkapan ya....... udah gila jangan dibikin gila donk ! “ Pandu menambahkan pendapat Putra.

Saya bingung mendengar ungkapan yang baru saja diucapkan oleh Pandu lalu saya bertanya, “ Maksudnya ? “. Pandu tertawa lalu berseloroh. “ Kita belajar akuntansi ini kan bisa dikatakan seperti orang gila karena kita menghitung uang yang entah dimana uangnya. Makanya kalau sudah seperti itu ya jangan lagi dibikin gila ketika menyadari bahwa apa yang dibutuhkan ketika kita bekerja tidak seindah yang kita dapatkan di bangku perkuliahan. “ Pandu menutup uraiannya dengan berkata, “ Sungguh malang nasib kita yang sedang belajar akuntansi ini karena kita adalah orang yang menuju ke-gila-an. “ Akhirnya, kami menutup diskusi tersebut dengan tertawa terbahak – bahak.

Dari uraian diskusi diatas, saya mencoba untuk menguraikan beberapa pokok permasalahan yang sifatnya krusial dan membutuhkan perhatian yang besar dalam pendidikan akuntansi. Pertama, sistem pendidikan akuntansi yang ada saat ini saya rasa masih kurang efektif sehingga menurut saya dapat mempengaruhi tingkat penguasaan dari akuntansi itu sendiri. Dalam hal ini saya sengaja memakai istilah tingkat penguasaan alih – alih kualitas lulusan karena dari apa yang sejauh ini telah saya amati bahwa kualitas lulusan masih diidentikan dengan “ seberapa tinggi nilai yang didapatkan “ alih – alih “ seberapa besar penguasaan yang dimiliki ” sehingga sering kita jumpai lulusan – lulusan yang memiliki nilai yang cukup baik tetapi mengalami kesulitan apabila diminta untuk menjelaskan akuntansi itu sendiri. Lalu, pola pendidikan yang mengharuskan penguasaan materi sedetail – detailnya padahal akuntansi dapat dikategorikan sebagai cabang keilmuan yang bersifat kompleks sehingga tak jarang kita temui kenyataan bahwa akuntansi menjadi salah satu cabang keilmuan yang dianggap rumit bagi kebanyakan orang..

Hal ini juga ditambah lagi dengan penyelenggaraan pendidikan akuntansi di perguruan tinggi yang tidak dibarengi dengan adanya jalur – jalur konsentrasi yang memungkinkan para mahasiswa untuk mempelajari / mendalami akuntansi berdasarkan interest ( baca:minat ) pada satu atau beberapa cabang ilmu tanpa harus mempelajari seluruh cabang ilmu akuntansi sehingga dapat menciptakan lulusan yang lebih terspesialisasi atau berkompeten dalam bidang - bidang akuntansi tertentu. (contohnya : akuntansi keuangan, akuntansi perpajakan, akuntansi manajemen, akuntansi publik, akuntansi keprilakuan, dsb ). Jadi saya menganggap bahwa pengkajian kembali sistem pendidikan akuntansi yang bertujuan untuk menyempurnakan sistem pendidikan yang ada merupakan sebuah tuntutan yang mendesak.

Kedua, saya mengutip dari diskusi diatas yang menyebutkan bahwa praktik akuntansi yang diterapkan dalam proses pembelajaran akuntansi dianggap tidak relevan lagi sehingga ditakutkan tidak mampu mempersiapkan lulusan akuntansi untuk menjawab tuntutan kerja setelah bangku perkuliahan. Dalam hal ini, saya tidak menganggap bahwa praktik akuntansi yang diterapkan pada saat ini yang masih kebanyakan bersifat manual itu tidak berguna. Bahkan saya menekankan bahwa hal tersebut justru merupakan pokok terpenting dalam pendidikan akuntansi. Pola tersebut dapat membantu mahasiswa untuk memahami alur pikir dan prinsip – prinsip yang berlaku di akuntansi. Akan tetapi, saya kurang sependapat apabila hal tersebut dianggap sudah cukup untuk mempersiapkan mahasiswa setelah meninggalkan bangku perkuliahan. Kenyataan bahwa perkembangan zaman dan teknologi yang sangat pesat itu juga menyentuh sampai ke area akuntansi adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan. Sedikit demi sedikit praktik akuntansi yang tadinya bersifat manual mulai beralih ke praktik akuntansi yang bersifat elektronik. Praktik yang sifatnya elektronik yang saya maksud dalam hal ini tidak hanya sekedar menggunakan perangkat lunak ( baca:aplikasi komputer ) untuk menyajikan sebuah laporan akuntansi ( baca:laporan keuangan) yang menurut saya masih tidak banyak berbeda dengan praktik yang bersifat manual, melainkan lebih pada kemampuan dalam mengoperasikan perangkat lunak dibidang akuntansi terlepas dari apakah perangkat tersebut bersifat sederhana ataupun kompleks.

Bahkan akan lebih baik lagi apabila tiap – tiap lulusan akuntansi mampu merancang sebuah sistem pelaporan akuntansi yang bersifat otomatis meskipun hanya berbentuk sederhana ( dengan menggunakan aplikasi office ) sekalipun juga hanya untuk penggunaan pribadi saja. Hal tersebut justru sangat bermanfaat, khususnya dalam menjawab tuntutan zaman, karena disamping membiasakan praktik akuntansi secara elektronik, hal tersebut nilai tambah yang dihasilkan akan cukup besar perbedaannya antara lulusan yang hanya menguasai akuntansi saja dengan lulusan yang tidak hanya menguasai akuntansi tetapi juga dapat menciptakan sesuatu sarana yang dapat mempermudah proses akuntansi tersebut. Ini bukanlah sebuah hal yang rumit karena yang kita butuhkan hanyalah pemahaman mengenai alur dan prinsip yang berlaku dalam akuntansi serta sedikit pengetahuan di bidang teknologi lalu menggabungkan kedua hal tersebut. Dalam hal ini, saya telah membuktikannya dengan mencoba membuat sebuah sistem pelaporan akuntansi yang bersifat otomatis untuk pengunaan pribadi dan usaha skala kecil dengan bentuk yang sederhana dan dibuat dengan menggunakan salah satu aplikasi office yang sering kita jumpai.

Memang sebagian perguruan tinggi memiliki program tambahan yaitu pendidikan akuntansi yang berbasis elektronik seperti DEA, Quicken, Zahir Accounting, dsb. Akan tetapi saya cenderung mendapatkan kesan, saya berharap mudah – mudah ini tidak terjadi, bahwa tak jarang program tersebut terkesan komersial alih - alih mengedepankan nilai – nilai pendidikan. Padahal program tersebut dapat dikategorikan sebagai kewajiban primer perguruan tinggi dalam mempersiapkan lulusannya dan bukan lagi dalam kategori sebagai “ barang subtitusi “. Maka dari itu saya berpendapat bahwa perguruan tinggi yang hanya memperkenalkan mahasiswanya pada praktik – praktik manual dikhawatirkan hanya akan mempersiapkan mahasiswa sebesar 50 % saja. Sisanya, tentu akan dikembalikan ke mahasiswa itu sendiri.

Ketiga, paradigma dari akuntansi pada hari ini yang masih menjadi momok menakutkan bagi kebanyakan orang. Apabila kita mengucapkan kata akuntansi pastilah yang pertama kali terbayang oleh kita adalah sejumlah perhitungan – perhitungan rumit, laporan – laporan yang sistematis, serta prosedur – prosedur dengan tingkat kesulitan yang super besar. Begitu juga di perguruan tinggi, akuntansi dianggap kompleks dan rumit sehingga memunculkan sebuah opini “ wajar apabila orang – orang keuangan ( baca:akuntansi, karena akuntansi diidentikkan dengan keuangan ) mendapatkan bayaran yang lebih tinggi, itu karena kerjanya berat ! “ dan masih banyak pandangan – pandangan lainnya yang menggambarkan bahwa akuntansi itu sulit.

Pernah suatu waktu saya iseng – iseng bertanya pada seorang pelajar SMU mengenai pelajaran yang umumnya dianggap sulit di sekolah. Lalu pelajar itu menjawab, ” Pertama Matematika, kedua Bahasa Inggris, ketiga Kimia, keempat Akuntansi, kelima ........ “. Dari hal tersebut kita dapat menangkap bahwa seorang pelajar SMU yang mungkin hanya mempelajari dasar – dasar dari akuntansi saja menganggap bahwa akuntansi tergolong subjek pelajaran yang sulit. Oleh karena itu, saya tidak heran apabila anggapan itu juga akan muncul di kalangan mahasiswa yang sedang mempelajari akuntansi. Jadi menurut saya, perlu ada perhatian yang besar dari orang – orang yang berkepentingan dalam menyusun sistem pendidikan akuntansi dalam menanggapi kondisi yang ada. Perhatian tersebut dapat berupa upaya dalam menyederhanakan pendidikan akuntansi itu sendiri tanpa harus mengurangi tujuan – tujuan dari pendidikan tersebut atau juga dapat dilakukan dengan upaya mengemas dan memperkenalkan akuntansi sebagai sesuatu yang mudah dan menyenangkan alih – alih menjadi sesuatu yang rumit. Upaya – upaya tersebut tentulah bukan sebuah hal mudah karena terkadang bagi kita “ lebih mudah untuk membuat sesuatu menjadi susah “ dan “ lebih susah untuk membuat sesuatu menjadi mudah. “

Kesimpulan dari apa yang telah saya paparkan ialah bahwa harus ada sebuah langkah yang harus diambil dari orang – orang yang berkecimpung di dunia pendidikan akuntansi. Sistem pendidikan akuntansi harus terus bersifat fleksibel dan terus dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman apabila kita ingin tetap menjaga kualitas dan kompetensi dari lulusan akuntansi. Untuk itu, menurut saya kita hanya cukup kembali pada pola analisis lama ( apa – siapa – kapan – dimana – bagaimana ). Pertama,“ Apa tuntutan terhadap lulusan akuntansi pada hari ini? “ Kedua,“ Siapakah ( baca:seperti apakah ) lulusan akuntansi yang akan kita dihasilkan? “ Ketiga, “ Kapankah kita melakukannya? “ (mempersiapkan tenaga akuntansi tersebut). Keempat,“ Dimanakah kita melakukannya? “ Kelima,“ Bagaimana kita melakukannya ?”. Apabila kita telah melakukan analisis yang mendalam dengan menggunakan lima indikator diatas maka saya yakin bahwa akan tercipta sebuah sistem pendidikan akuntansi yang tidak hanya efektif tetapi juga tanggap terhadap perkembangan zaman atau yang lebih dikenal dengan istilah up to date. Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk berteriak, “ AKUNTANSI...UDAH GILA, JANGAN DIBIKIN GILA DONK !!!!!